Bencana banjir dan lumpur yang melanda Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, mungkin telah surut. Namun bagi masyarakat di tujuh gampong terdampak—Ulee Ceu, Bungeng, Bugak Krueng Mate, Punjot, Pante Paku, Kuala Ceurape, dan Alue Kuta—dampaknya masih sangat terasa.
Di atas hamparan sawah yang dulu hijau dan subur, kini tersisa lumpur yang mengering, retakan tanah, dan rumput liar yang mulai mengambil alih.
Sawah yang dahulu menjadi sumber kehidupan, kini seakan kehilangan denyutnya.
Rumput liar tumbuh di atas lumpur yang pernah menenggelamkan harapan.
Dan di balik hamparan itu, ada keluarga-keluarga petani yang masih menunggu kesempatan untuk bangkit.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, sedikitnya 2.148 hektare lahan sawah tertimbun lumpur akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Jangka. Angka ini menunjukkan besarnya dampak yang harus dihadapi para petani.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, survei lapangan dilakukan selama dua hari, Kamis–Jumat (23–24 April 2026), untuk melihat langsung kondisi di lapangan.
Survei tersebut dipimpin oleh Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, bersama tim relawan dan aparatur gampong setempat.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya mendukung penanggulangan bencana secara nasional yang dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Survei difokuskan pada pemetaan kondisi lahan, kebutuhan logistik pertanian, serta langkah awal pemulihan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian.
Tim turun langsung ke lokasi untuk melihat tingkat kerusakan, hambatan pemulihan, dan kemungkinan pemanfaatan kembali lahan.
Bagi masyarakat Jangka, sawah bukan sekadar lahan.
Sawah adalah sumber makan, biaya pendidikan anak-anak, dan penopang utama kehidupan keluarga.
Ketika sawah tertutup lumpur, yang hilang bukan hanya hasil panen, tetapi juga penghasilan dan rasa aman untuk hari esok.
Seorang petani di salah satu gampong terdampak mengaku masih datang setiap hari ke sawahnya, meski yang tersisa hanya lumpur kering dan rumput liar.
“Dulu di sini hijau. Sekarang rumput liar tumbuh di atas lumpur. Kalau terus dibiarkan, tanah ini bisa mati, dan kami tidak tahu harus hidup dari mana lagi,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas tidak hanya hadir pada masa tanggap darurat, tetapi juga tetap mendampingi masyarakat dalam masa pemulihan.
Menurut Arizal Mahdi, pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada bantuan darurat saja.
“Bencana tidak hanya merusak rumah dan jalan, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat. Ketika sawah tertutup lumpur dan mulai ditumbuhi rumput liar, itu tanda bahwa waktu terus berjalan, sementara masyarakat belum sepenuhnya pulih. Karena itu, kami ingin memastikan ada jalan bagi masyarakat untuk bangkit kembali,” ujarnya.
Dari hasil survei tersebut, disiapkan langkah awal berupa pilot project penanaman jagung sebagai alternatif pemanfaatan lahan.
Jagung dipilih karena masa tanamnya relatif singkat, lebih mudah beradaptasi dengan kondisi tanah yang sedang pulih, dan memiliki nilai ekonomi yang dapat membantu petani mendapatkan penghasilan kembali.
Namun demikian, sebagian lahan masih membutuhkan penanganan, seperti pembersihan endapan lumpur, penyediaan bibit unggul, pupuk, serta pendampingan teknis.
Jika langkah pemulihan tidak segera dilakukan, masyarakat berisiko kehilangan musim tanam berikutnya.
Bagi petani, kehilangan satu musim tanam berarti kehilangan satu siklus kehidupan.
Karena itu, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah daerah, dinas terkait, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian.
Pemulihan pascabencana bukan hanya soal membersihkan lumpur.
Tetapi mengembalikan martabat hidup masyarakat.
Mengembalikan kemampuan mereka untuk berdiri kembali.
Dan menghidupkan harapan yang sempat tertimbun.
Di atas lumpur yang mengering, masyarakat Jangka sedang menanam kembali harapan.
Sebab bagi mereka, bangkit bukan pilihan, melainkan keharusan.













