Lahan Siap, Petani Siap, Air Tak Ada: Relawan Ambil Peran Saat Dukungan Pertanian Bireuen Tersendat”

BIREUEN, ACEH — Enam bulan setelah banjir dan lumpur melanda wilayah Kabupaten Bireuen, pemulihan sektor pertanian belum sepenuhnya kembali berjalan normal. Di sejumlah titik, lahan memang telah mengering, namun belum kembali menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat.

Di Desa Ulee Ceu, hamparan sawah yang sebelumnya tertutup lumpur kini berubah menjadi tanah kering yang dipenuhi rumput liar. Tidak terlihat aktivitas tanam seperti musim-musim sebelumnya. Lahan yang dahulu produktif kini terbengkalai, menunggu kepastian untuk kembali dimanfaatkan.

Sejumlah lahan pertanian di wilayah Kecamatan Jangka dilaporkan belum kembali produktif sejak bencana terjadi, memperlihatkan bahwa proses pemulihan di tingkat lapangan masih berjalan lambat.

Kondisi tersebut diperparah dengan tidak berfungsinya sistem irigasi di wilayah Kecamatan Jangka. Tanpa aliran air yang memadai, petani tidak lagi dapat menanam padi seperti sebelumnya.

“Dulu kami tanam padi di sini. Sekarang air tidak ada,” ujar seorang petani setempat, menggambarkan perubahan yang mereka hadapi sejak bencana.

Dengan keterbatasan tersebut, sebagian besar petani terpaksa beralih ke komoditas alternatif seperti jagung yang lebih memungkinkan ditanam dalam kondisi minim air.

Di tengah situasi ini, Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas mengambil inisiatif melalui program penanaman jagung berbasis masyarakat. Namun, program tersebut berjalan tanpa dukungan benih dari Dinas Pertanian Kabupaten Bireuen.

Ketua Umum relawan, Arizal Mahdi, mengungkapkan kekecewaannya terhadap respons yang diterima saat mengajukan permintaan bantuan.

Menurutnya, ketika dilakukan koordinasi, pihak dinas secara langsung menyampaikan bahwa ketersediaan benih jagung tidak tersedia saat itu, tanpa penjelasan mengenai ketersediaan ke depan maupun skema alternatif dukungan.

“Lahan sudah siap, masyarakat siap, tetapi waktu tidak bisa ditunda. Jika musim tanam terlewat, maka pemulihan ekonomi juga ikut tertunda,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, ia mengambil langkah sendiri dengan mencari dan mengupayakan pengadaan benih dari luar daerah agar program tetap berjalan sesuai jadwal tanam.

Program ini direncanakan akan dikembangkan hingga menjangkau delapan desa di wilayah Kecamatan Jangka sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi berbasis pertanian, insyaallah.

Situasi ini menunjukkan bahwa tantangan pemulihan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bantuan, tetapi juga menyangkut kesiapan infrastruktur dan kecepatan respons. Ketika irigasi belum berfungsi dan dukungan dasar belum tersedia tepat waktu, maka ruang gerak petani menjadi terbatas.

Sejumlah pengamatan di lapangan mengindikasikan adanya jarak antara kebijakan dan implementasi. Dalam sektor pertanian, keterlambatan respons pada fase ini berpotensi berdampak langsung pada siklus produksi, hasil panen, serta pemulihan pendapatan masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini, keterlambatan kecil dalam dukungan dapat berujung pada tertundanya satu musim tanam penuh.

Hingga laporan ini disusun, upaya konfirmasi kepada Dinas Pertanian Kabupaten Bireuen masih berlangsung untuk memperoleh penjelasan resmi terkait kondisi tersebut.

Di lapangan, proses pemulihan tetap berjalan, meski dengan keterbatasan.

Petani mulai kembali mengolah tanah.

Lahan yang sempat terdiam perlahan disentuh kembali.

Dan dari situ terlihat satu hal yang semakin jelas: dalam fase pascabencana, yang paling menentukan bukan hanya rencana, tetapi konsistensi kehadiran dan kecepatan respons di lapangan—karena bagi petani, waktu tanam tidak pernah menunggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *