Survei Lahan Jagung Pasca Banjir di Ulee Ceu Ketika Sawah Hilang Harapan Tak Boleh Ikut Tenggelam

BIREUEN, ACEH — Hamparan sawah di Gampong Ulee Ceu, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen kini berubah drastis. Lumpur tebal yang sebelumnya basah akibat banjir kini telah mengering, mengeras, bahkan di sejumlah titik mulai ditumbuhi rumput liar. Kondisi ini menjadi penanda bahwa dampak bencana tidak hanya sementara, tetapi meninggalkan perubahan serius pada lahan pertanian masyarakat.

Lahan yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga tidak lagi dapat difungsikan seperti sebelumnya. Sawah yang dulu hijau dan produktif kini berubah menjadi hamparan tanah tertutup lumpur keras yang sulit diolah. Bagi masyarakat, ini bukan sekadar kehilangan hasil panen, tetapi hilangnya sumber penghidupan yang selama ini mereka andalkan.

Di tengah situasi tersebut, upaya pemulihan mulai dilakukan.

Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas Arizal Mahdi bersama Keuchik Gampong Ulee Ceu, Kasi Pemerintahan Gampong, serta anggota relawan tingkat kecamatan turun langsung ke lokasi untuk melakukan survei lapangan. Kegiatan ini bertujuan menilai kemungkinan lahan dijadikan sebagai lokasi percontohan penanaman jagung.

Dari hasil pengamatan di lapangan, terlihat jelas perubahan struktur tanah. Lapisan lumpur menutup permukaan sawah dengan ketebalan yang berbeda-beda. Pada beberapa bagian, tanah yang telah mengering mulai ditumbuhi rumput liar, menandakan perubahan kondisi alami lahan yang tidak lagi sesuai untuk tanaman padi.

Tim menyusuri area terdampak, melakukan pengamatan langsung, berdiskusi, serta memetakan potensi lahan yang masih bisa dimanfaatkan meskipun dengan jenis tanaman yang berbeda.

Arizal Mahdi menyampaikan bahwa kondisi ini memang tidak mudah, namun harus dihadapi dengan langkah nyata.

Ia menjelaskan bahwa penanaman jagung menjadi pilihan karena dinilai lebih mampu beradaptasi dengan kondisi tanah yang telah berubah. Program ini diharapkan menjadi solusi awal agar masyarakat tetap memiliki sumber penghasilan.

Keuchik Gampong Ulee Ceu mengungkapkan bahwa dampak banjir sangat dirasakan oleh warga, khususnya para petani yang kehilangan lahan produktif mereka.

Ia menyebutkan bahwa sawah yang sebelumnya menjadi tumpuan hidup kini tidak lagi dapat ditanami, bahkan sebagian telah berubah menjadi tanah keras yang ditumbuhi rumput.

Kasi Pemerintahan Gampong menambahkan bahwa kerja sama antara pemerintah desa dan relawan menjadi langkah penting dalam mempercepat proses pemulihan.

Sementara itu, para relawan terus melakukan identifikasi kondisi lapangan, termasuk mengamati tingkat kekerasan tanah dan kemungkinan pengolahan lebih lanjut agar lahan dapat kembali dimanfaatkan.

Program ini bukan semata tentang penanaman jagung, tetapi juga tentang upaya bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan yang terjadi akibat bencana.

Kini, di atas sawah yang telah berubah menjadi hamparan lumpur kering dan ditumbuhi rumput liar, masyarakat Gampong Ulee Ceu menghadapi kenyataan yang berat. Namun dari kondisi tersebut, harapan untuk bangkit tetap ada.

Selama tanah itu masih ada, masyarakat percaya selalu ada jalan untuk memulai kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *