BENER MERIAH, ACEH — April 2026 — Lima mahasiswa Universitas Syiah Kuala menerima certificate of appreciation dari Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas atas keterlibatan langsung mereka dalam aksi pendistribusian bantuan kemanusiaan di Kampung Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi nyata para mahasiswa dalam mendukung penyaluran bantuan yang dipimpin langsung oleh Arizal Mahdi, dalam kegiatan respons sosial yang menyasar masyarakat dengan kondisi ekonomi rentan di wilayah tersebut.
Adapun lima mahasiswa penerima penghargaan adalah Nur Salwa Afifah, Tiara Resti Winika, Rizka Aprita, Warasatul Ambia, dan Adib Muntas Rawandi.
Kegiatan pendistribusian bantuan dilakukan melalui mekanisme terstruktur, meliputi pendataan penerima manfaat, koordinasi dengan aparatur kampung, serta penyaluran langsung kepada warga guna memastikan prinsip transparansi dan ketepatan sasaran tetap terjaga. Bantuan yang disalurkan berupa paket kebutuhan pokok dan perlengkapan dasar untuk mendukung kebutuhan harian masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi antara kalangan akademisi dan organisasi masyarakat sipil. Sinergi tersebut dinilai memperkuat model respons kemanusiaan berbasis partisipasi sekaligus mendorong internalisasi nilai empati dan tanggung jawab sosial di kalangan generasi muda.
Dalam keterangannya, Arizal Mahdi menegaskan bahwa aksi kemanusiaan harus diwujudkan melalui kehadiran nyata di lapangan, bukan sekadar pernyataan normatif.
“Kepedulian tidak cukup diucapkan, tetapi harus dihadirkan. Kami ingin memastikan masyarakat merasakan bahwa solidaritas itu nyata dan dapat diandalkan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem kepedulian lintas generasi, di mana keterlibatan mahasiswa menjadi indikator tumbuhnya kesadaran sosial yang berkelanjutan di Aceh.
Perwakilan aparatur Kampung Uning Mas menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas bersama mahasiswa, yang dinilai memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam membantu pemenuhan kebutuhan dasar warga.
Selain penyaluran bantuan, kegiatan ini juga diisi dengan dialog antara relawan, mahasiswa, dan warga setempat guna menyerap aspirasi serta mengidentifikasi kebutuhan lanjutan yang dapat ditindaklanjuti secara bertahap. Pendekatan tersebut mencerminkan upaya membangun intervensi sosial yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi berorientasi pada keberlanjutan.
Pemberian penghargaan ini sekaligus menegaskan komitmen Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas dalam mendorong keterlibatan aktif generasi muda serta memperkuat kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi gerakan kemanusiaan yang adaptif dan berkelanjutan.
Di wilayah lereng Pintu Rime Gayo, aksi ini tidak hanya menghadirkan bantuan dalam bentuk material, tetapi juga mempertegas kehadiran kepemimpinan sosial yang bekerja secara langsung di tengah masyarakat—menghubungkan solidaritas dengan tindakan nyata, serta menjadikan kemanusiaan sebagai praktik, bukan sekadar wacana.













