Di sebuah sudut dunia yang sering dilupakan,
seorang manusia duduk menahan lapar.
Perutnya kosong seperti padang yang kering,
matanya redup seperti lampu yang hampir padam.
Tidak ada istana yang ia minta.
Tidak ada kekayaan yang ia impikan.
Ia hanya berharap satu hal sederhana
yang sering dianggap kecil oleh dunia:
sesuap nasi untuk bertahan hidup hari ini.
Namun dunia berjalan dengan kesombongannya.
Manusia berlomba meninggikan bangunan,
mendirikan menara yang menembus langit,
menghitung kekayaan yang tidak pernah cukup.
Tetapi sering kali mereka lupa
bahwa di bawah langit yang sama
masih ada manusia yang menggigil
menunggu sebutir nasi jatuh ke tangannya.
Saudaraku…
tahukah engkau rahasia yang sangat agung
yang sering tersembunyi di balik sedekah kecil?
Ketika tanganmu memberikan sesuap nasi
kepada perut yang telah lama menahan lapar,
pada saat itu juga
langit mencatat namamu dengan cahaya.
Air mata orang lapar yang engkau bahagiakan
tidak pernah jatuh sia-sia.
Setiap tetesnya naik ke langit
menjadi saksi kasih yang tidak pernah mati.
Kadang manusia berpikir
bahwa membangun seribu bangunan ibadah
adalah amal yang sangat besar.
Namun sering kali dunia lupa,
bahwa Tuhan lebih dulu melihat
perut manusia yang lapar di bumi.
Sebab di hadapan-Nya,
satu suapan nasi yang diberikan dengan ikhlas
bisa lebih berat nilainya
daripada kemegahan yang dibangun tanpa cinta.
Maka jangan tunggu menjadi kaya
untuk menolong manusia.
Jangan tunggu menjadi besar
untuk menyelamatkan sesama.
Karena kadang-kadang
Tuhan menyembunyikan rahasia surga-Nya
di dalam tangan sederhana
yang memberi makan orang lapar.
Dan kelak ketika dunia ini berakhir,
bukan harta yang akan berbicara,
bukan pula jabatan yang akan bersaksi.
Yang akan berdiri di hadapan Tuhan
adalah manusia-manusia lapar
yang pernah engkau kenyangkan.
Dan pada saat itulah
engkau akan mengerti satu kebenaran yang paling sunyi:
bahwa kasih kepada manusia
adalah ibadah paling agung
yang mampu mengguncang langit dan bumi.
Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas













